Enam Bulan Kemudian . . . . . . . . . .
Pagi – pagi sekali Abil sudah menemui dokter yang biasanya memeriksa Zainab, nah apa yang mereka bicarakan ???
Pagi – pagi sekali Abil sudah menemui dokter yang biasanya memeriksa Zainab, nah apa yang mereka bicarakan ???
Abil : Dokter kenapa sekarang saya melihat istri saya semakin parah selama enam bulan terakhir ini??? Dia tak bisa lagi bicara dan sulit sekali menggerakkan seluruh anggota badannya??? Harus selalu terbaring di
tempat tidur??? Tak bisa menulis lagi, jadi jika dia ingin bicara, dia harus menunjuk satu persatu huruf dalam alphabet??? Astaghfirullah sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan istri saya Dok???
Dokter : Pak Abil saya berharap Anda bisa bersabar, dan Anda harus siap mental untuk menerima kejadian paling terburuk yang akan dialami istri Anda . . .
Abil : Apa maksud dokter dengan kejadian paling terburuk???
Dokter : Maaf sebelumnya Pak, kami dari segenap tim dokter di rumah sakit ini telah mempresentasikan bahwa kondisi Ibu Zainab hanyalah tinggal 30% lagi . .
Abil : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un . . . Benarkah itu dokter??? Tapi saya tak percaya itu karena kalian semua itu bukan Allah yang bisa menentukan umur manusia
Dokter : Itu memang benar Pak, tapi itulah menurut hitungan medis, tetapi kami berharap akan ada keajaiban yang terjadi untuk istri Anda, karena terus terang saja Pak, selama ini tak pernah ada yang selamat dari kanker tulang belakang bila fasenya sudah mencapai seperti yang Ibu Zainab alami . .
bagai tersambar petir dirinya mendengarkan penjelasan dokter, air matanya pun langsung berderai, hampir saja dia pingsan, tapi masih kuat untuk bicara.
Abil : Trimakasih atas penjelasannya dok, tapi saya ada satu permintaan, saya mohon agar istri saya tidak tahu tentang kondisi dia yang sebenarnya .
Dokter : Bapak tenang saja, kami tak akan beritahu apapun kepada Bu Zainab, hmmm beliau beruntung sekali punya suami seperti Anda Pak . . . Yang sabar dan banyak berdo’a semoga ada keajaiban ya Pak . . . Baiklah sekiranya sudah cukup apa yang saya sampaikan, saya harus memeriksa pasien lainnya . . .
Abil : Oh iya trimakasih ya dok . . .
Abilpun segera menuju ke kamar zainab namun sebelumnya mampir sebentar ke taman bunga belakang rumah sakit, alangkah terperanjat Abil ketika melihat semua bunga mawar putih disana layu, tiada satupun yang mekar, mungkin ini menandakan bahwa mereka merasakan juga derita yang dialami Zainab
Abil: Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un, kenapa semuanya layu, pertanda apa ini, Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk untuk istri hamba . . .
sambil berlinang air matanya Abil pun tak kuasa lagi melihat bunga – bunga yang layu itu, hatinya tambah hancur, air matanya pun semakin berderai . . .
Kemudian Abil ke masjid ambil air wudlu dan sholat dzuhur karena kebetulan sudah memasuki waktu dzuhur, tak lupa ia pun bermunajat kepada Allah untuk kesembuhan istrinya, beginilah munajatnya : Ya Allah hamba tahu Engkaulah Penentu Umur Manusia dan Maha Mengetahui ajal seseorang . . .
Hamba yang tak berdaya ini memohon kepadamu untuk memberikan kesempatan bagi istri hamba untuk hidup sedikit lebih lama di dunia ini . . .
Jika Engkau berkenan, hamba rela menyerahkan sisa umur hamba kepada istri hamba . . .
Setidaknya istri hamba tidak mendahului hamba untuk Kau panggil Ya Allah . . .
Tapi jika memang istri hamba lebih dulu Engkau panggil, ringankanlah kepergiannya dan ampunilah dosa – dosanya Ya Allah karena selama ini dia sudah berjuang keras melawan penyakitnya . . . Hamba serahkan semuanya kepadaMu Ya Rabb, karena hamba yakin dan percaya Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaMU . . .
Amin Ya Robbal alamin . . .
selama berdo’a air matanya tak henti – hentinya berderai, tapi kemudian dia menenangkan hatinya dan mencuci muka agar nanti istrinya tidak tahu jika dia selesai menangis. Sampailah Abil di kamar istrinya dirawat . Ternyata istrinya tertidur . . .
Dua hari kemudian . . . . . . . . .
Pagi itu awal bulan Juni 2011 langit begitu mendung menyelimuti sebuah rumah sakit dan semua bunga mawar putih yang ada di taman belakang rumah sakit itu tiba – tiba semuanya mati . . .
Abil : Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un pertanda apa ini Ya Allah pertanda apa ini, jangan – jangan . . . Astaghfirullah Zainab, Zainab istriku . . .
Abil pun berlari kencang ke kamar istrinya sambil memanggil – manggil Zainab seperti orang gila
Abil : Assalamu’alaikum sayang . . .
Zainab :Wa’alaikumsalam
dijawab di dalam hati karena Zainab tak bisa berbicara dan sulit menggerakkan tangannya untuk menulis, maka diapun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Abil pun mengerti isyarat dari istrinya
Abil : Kau baik – baik saja kan sayang??? Tapi kenapa kau pucat sekali Zainab???
Zainabpun menjawab dengan menggunakan papan alphabet dan menunjuk satu persatu huruf, Abil pun mengambil catatan untuk merangkai kata- kata istrinya dan apabila dirangkai beginilah isinya) Aku cinta sangat padamu . . . Sekarang kau ambillah diary ku di laci itu, bacalah 2 lembar halaman terakhir diary itu, aku sudah tulis semuanya untukmu sewaktu aku masih bisa menulis . . .
tempat tidur??? Tak bisa menulis lagi, jadi jika dia ingin bicara, dia harus menunjuk satu persatu huruf dalam alphabet??? Astaghfirullah sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan istri saya Dok???
Dokter : Pak Abil saya berharap Anda bisa bersabar, dan Anda harus siap mental untuk menerima kejadian paling terburuk yang akan dialami istri Anda . . .
Abil : Apa maksud dokter dengan kejadian paling terburuk???
Dokter : Maaf sebelumnya Pak, kami dari segenap tim dokter di rumah sakit ini telah mempresentasikan bahwa kondisi Ibu Zainab hanyalah tinggal 30% lagi . .
Abil : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un . . . Benarkah itu dokter??? Tapi saya tak percaya itu karena kalian semua itu bukan Allah yang bisa menentukan umur manusia
Dokter : Itu memang benar Pak, tapi itulah menurut hitungan medis, tetapi kami berharap akan ada keajaiban yang terjadi untuk istri Anda, karena terus terang saja Pak, selama ini tak pernah ada yang selamat dari kanker tulang belakang bila fasenya sudah mencapai seperti yang Ibu Zainab alami . .
bagai tersambar petir dirinya mendengarkan penjelasan dokter, air matanya pun langsung berderai, hampir saja dia pingsan, tapi masih kuat untuk bicara.
Abil : Trimakasih atas penjelasannya dok, tapi saya ada satu permintaan, saya mohon agar istri saya tidak tahu tentang kondisi dia yang sebenarnya .
Dokter : Bapak tenang saja, kami tak akan beritahu apapun kepada Bu Zainab, hmmm beliau beruntung sekali punya suami seperti Anda Pak . . . Yang sabar dan banyak berdo’a semoga ada keajaiban ya Pak . . . Baiklah sekiranya sudah cukup apa yang saya sampaikan, saya harus memeriksa pasien lainnya . . .
Abil : Oh iya trimakasih ya dok . . .
Abilpun segera menuju ke kamar zainab namun sebelumnya mampir sebentar ke taman bunga belakang rumah sakit, alangkah terperanjat Abil ketika melihat semua bunga mawar putih disana layu, tiada satupun yang mekar, mungkin ini menandakan bahwa mereka merasakan juga derita yang dialami Zainab
Abil: Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un, kenapa semuanya layu, pertanda apa ini, Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk untuk istri hamba . . .
sambil berlinang air matanya Abil pun tak kuasa lagi melihat bunga – bunga yang layu itu, hatinya tambah hancur, air matanya pun semakin berderai . . .
Kemudian Abil ke masjid ambil air wudlu dan sholat dzuhur karena kebetulan sudah memasuki waktu dzuhur, tak lupa ia pun bermunajat kepada Allah untuk kesembuhan istrinya, beginilah munajatnya : Ya Allah hamba tahu Engkaulah Penentu Umur Manusia dan Maha Mengetahui ajal seseorang . . .
Hamba yang tak berdaya ini memohon kepadamu untuk memberikan kesempatan bagi istri hamba untuk hidup sedikit lebih lama di dunia ini . . .
Jika Engkau berkenan, hamba rela menyerahkan sisa umur hamba kepada istri hamba . . .
Setidaknya istri hamba tidak mendahului hamba untuk Kau panggil Ya Allah . . .
Tapi jika memang istri hamba lebih dulu Engkau panggil, ringankanlah kepergiannya dan ampunilah dosa – dosanya Ya Allah karena selama ini dia sudah berjuang keras melawan penyakitnya . . . Hamba serahkan semuanya kepadaMu Ya Rabb, karena hamba yakin dan percaya Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaMU . . .
Amin Ya Robbal alamin . . .
selama berdo’a air matanya tak henti – hentinya berderai, tapi kemudian dia menenangkan hatinya dan mencuci muka agar nanti istrinya tidak tahu jika dia selesai menangis. Sampailah Abil di kamar istrinya dirawat . Ternyata istrinya tertidur . . .
Dua hari kemudian . . . . . . . . .
Pagi itu awal bulan Juni 2011 langit begitu mendung menyelimuti sebuah rumah sakit dan semua bunga mawar putih yang ada di taman belakang rumah sakit itu tiba – tiba semuanya mati . . .
Abil : Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un pertanda apa ini Ya Allah pertanda apa ini, jangan – jangan . . . Astaghfirullah Zainab, Zainab istriku . . .
Abil pun berlari kencang ke kamar istrinya sambil memanggil – manggil Zainab seperti orang gila
Abil : Assalamu’alaikum sayang . . .
Zainab :Wa’alaikumsalam
dijawab di dalam hati karena Zainab tak bisa berbicara dan sulit menggerakkan tangannya untuk menulis, maka diapun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Abil pun mengerti isyarat dari istrinya
Abil : Kau baik – baik saja kan sayang??? Tapi kenapa kau pucat sekali Zainab???
Zainabpun menjawab dengan menggunakan papan alphabet dan menunjuk satu persatu huruf, Abil pun mengambil catatan untuk merangkai kata- kata istrinya dan apabila dirangkai beginilah isinya) Aku cinta sangat padamu . . . Sekarang kau ambillah diary ku di laci itu, bacalah 2 lembar halaman terakhir diary itu, aku sudah tulis semuanya untukmu sewaktu aku masih bisa menulis . . .
Beginilah isinya :
Selama dua setengah tahun kita menikah, kau selalu menghiburku, menyenangkan hatiku, membuatku selalu tersenyum setiap hari . . . Kau selalu membimbingku dan menjadi imam yang baik untukku . . . Kau tak pernah mengeluh ataupun marah sedikitpun merawatku dan menemaniku yang sekarat ini . . . Kau juga pernah berkata bahwa kau rela memberikan hidupmu untukku, dan kau telah buktikan, kau tinggalkan keluargamu demi menikah denganku . . . Kau benar – benar suami idaman bagi setiap wanita, aku benar – benar beruntung dan sangat bahagia bisa menjadi istrimu, itu merupakan anugerah terindah dalam hidupku . . . Kau selalu menyemangatiku, tak sedetikpun kau membiarkan aku patah semangat dalam menghadapi penyakitku ini . . . Kau benar – benar motivator terbesar dalam hidupku . . . Tapi aku hanyalah wanita penyakitan, istri yang tak berguna dan selalu menyusahkanmu . . . Bahkan selama 2 tahun lebih kita menikah, aku belum pernah memberimu dan membuatmu bahagia, bahkan selama ini kita tak pernah melakukan hubungan suami istri . . . Kau begitu sangat sabar dan kasih, sangat sayang dan cinta kepadaku . . . Aku benar – benar tak sanggup bila harus berpisah denganmu . . . Tapi waktunya telah tiba Abil, waktunya aku pergi . . . Maafkan aku Abil sayang, maafkan aku . . . I love you so much my lovely husband . . .
Begitu selesai membaca tulisan Zainab, Abil pun menangis dengan sejadi – jadinya. diapun langsung bilang I love you too my lovely wife . . .
Abil : Apapun yang kau tulis, itu tak kan merubah apapun sayang, hanya satu hal yang harus kau tahu bahwa sampai kapanpun aku tak kan pernah menikah dengan wanita manapun kecuali denganmu Zainab karena cinta pertama dan cinta terakhirku hanya kau seorang, hanya kau seorang Zainab tak ada yang lainnya . . . Mereka berdua pun berpelukan, dan dalam pelukan Abil, Zainab memejamkan matanya dan dalam hati dia berkata “kunantikan kau di pintu surga, sampai bertemu lagi Abil sayang, aku senang bisa pergi dalam pelukanmu”, kemudian dia menghembuskan nafas terakhir . . .
Abil : Zainab, sayang apa kau sedang tidur??? Tapi kenapa kau dingin sekali??? Jangan2 . . . Zainab, Zainab, sayang bangunlah sayang, bukalah matamu, aku mohon bukalah matamu . . . Dokter, dokter, dokter . . .
dokter pun segera datang dan memeriksa kondisi Zainab, ternyata benar Zainab telah berpulang ke Rahmatullah
Dokter : Maaf Pak, kami sudah berusaha, tapi kami hanya manusia biasa, istri Anda sudah pergi . . .
Abil : Apa dokter??? Itu tak mungkin . . . Zainab bangun sayang, bangun, sayang jangan tinggalkan aku . . . Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un . . .
Abilpun berurai air mata........
Abil: Iya ini mungkin yang terbaik untuknya, agar Zainab tak lagi merasakan sakit lagi, selamat jalan istriku sayang, sekarang kau sudah bebas dan tak kan menderita lagi, nantikanlah aku di pintu surga . . .
Oleh Aidah Fachria


Tidak ada komentar:
Posting Komentar